Bom Buku
Author:
Unknown
Book:
»
cerita kecil
Sudah ku duga, pasti akan ada razia di x-Ramayana.
“Masuk, masuk, masuk..”, perkataan pak polisi menggiring motor-motor yang melewati Jalan Raya Bogor ke dalam halaman parkiran gedung x-Ramayana yang sudah lama bangkrut itu. Beberapa polisi bahkan sampai menghadang separuh jalan untuk mencegah ada yang kabur meski ku lihat ada satu yang berhasil kabur.
Aku pun masuk di antara kerumunan motor-motor yang mengantri itu. Sebagian tampak sibuk mencari-cari sesuatu di tasnya. Sebagian lain sibuk menelpon entah kenapa. Lama sekali.
“Silahkan, silahkan..”, seorang polisi mempersilahkanku keluar dari area peraziaan ini.
“Lo Pak? Saya belum diperiksa!”, protesku yang sudah mengantri lumayan lama.
“O, belum ya?”, ucap polisi itu sambil mengambil SIM dan STNK yang memang dari tadi sudah ku genggam.
“Hmm, kayanya tasnya berat banget, boleh dibuka nggak? Pasti isinya buku.”, tanya polisi itu tiba-tiba dengan nada tidak serius kepadaku.
“Haa??”, jawabku malas dan tidak terlalu kaget karena tadi pagi pun aku sudah menduga tas hitam berisi 4 buah buku tebal dan sebuah netbook ini pasti akan terlihat mencurigakan pada saat seperti ini, saat musim panas bom buku.
“Tuh kan betul..”, dengan agak bercanda pak polisi itu memeriksa satu persatu isi tasku. Sebuah netbook berwarna shockpink dan empat buah buku yang lebih terlihat seperti empat buah kotak kado pun cukup membuatnya tersenyum sungging telah mengira hal yang aneh-aneh padaku.
Untung saja hari ini aku tidak jadi membawa buku Riyadush Shalihin. Empat buku yang cukup berat ini telah mengurungkan niatku membawanya ke acara mabit nanti malam. Ya, nanti malam ada agenda mabit di rumah temanku, yang rumahnya masih satu RW denganku. Lagipula setelah ku ingat-ingat, temanku itu juga punya buku ini.
Aku jadi berandai-andai. Andai saja aku jadi membawanya, pasti aku akan sangat puas menakut-nakuti polisi tadi. Kalau saja iya, aku bisa beracting panik dan menolak untuk membuka tasku. Pasti polisi itu jadi curiga. Kemudian, ketika ia membuka tasku, pasti ia akan lebih kaget lagi melihat seonggok buku yang setebal ini. Dan aku bisa puas berkata, “Bapak mau baca ini juga? Beli sendiri aja ya pak! Ini masih saya baca.”
“Hahaha…”, membayangkannya saja sudah membuatku tertawa.
Tepat pukul 21.30 aku tiba di rumah. Rencananya setelah privat dari Bogor, aku mau langsung ke rumah temanku itu. Tapi karena di Bogor aku kehujanan, aku memutuskan untuk pulang dulu, sekalian makan dan mandi.
“Tut.. tut.. tut..”, suara telepon temanku tanpa nada dering.
“Halo assalamu’alaykum Sri?”, sapaku ketika bunyi tut tut itu berhenti.
“Ya, wa’alaykumsalam, di mana Dry?”, sahut temanku.
“Aku baru nyampe rumah Sri, di sana dah ada siapa aja?”, tanyaku.
“Baru aku dan Anggi.”, jawabnya.
“Amal dateng nggak Sri?”, tanyaku memastikan teman kami yang satu lagi.
“Dateng, ketiduran dia.”, jelasnya singkat.
“Oo, kalau aku bawa motor cukup nggak?”, tanyaku karena temanku yang menjadi tuan rumah sudah memperingatkan agar motor tidak dibawa semuanya karena tempat parkir terbatas.
“Masih cukup satu lagi sih Dry, tapi kalau amal bawa jadi nggak cukup.”, jawabnya.
“Oo ya udah, aku jalan kaki aja.”, keputusanku karena aku yakin mana mungkin Amal mau naik angkot, dia kan pembalap sejati. Lagipula rumahnya memang jauh lebih jauh dari pada rumahku.
“Hah jalan? Yakin? Minta anterin aja Dry?”, temanku kaget karena memang ini sudah larut malam.
“Iya nggak papa Sri, nggak ada yang bisa nganterin, lagian deket kok.”, jawabku santai karena memang waktu yang ku butuhkan dengan berjalan kaki tidak lebih dari 20 menit.
Sudah tepat jam 10 malam. Makan sudah, mandi pun sudah.
“1 new message”, tulisan di handphone ku.
“Asw, Indry dah jln? Buku Negeri 5 Menaranya masih dibaca? Aku boleh pinjam g? Bawa y..”, ternyata ini SMS dari Sri.
“Piii, Negeri 5 Menaranya masih dibaca nggak?! Temen kakak mau minjem!”, teriakku dari kamar pada adikku yang sedang menonton TV. Aku harus menanyakan dulu padanya karena memang buku itu aku beli atas permintaannya.
“Lama nggak? Ya udah deh bawa aja.”, ijinnya setelah sebentar berpikir.
Tempat pensil berisi sabun muka dan sikat gigi, handphone dan sebuah buku. Tiga benda ini menjadi barang bawaanku untuk mabit. Karena tidak banyak, aku putuskan untuk menentengnya saja.
Ternyata jalanan sudah sangat sepi. Warung-warung dan Indomart juga sudah tutup. Hanya saja masih ada beberapa bapak-bapak yang sedang berkumpul di depan sedikit warung yang sudah bersiap tutup. Tadinya aku berjalan biasa saja, tapi ketika menyadari ada sebuah buku yang lumayan tebal di tanganku entah kenapa aku jadi salah tingkah sendiri. Aku pun kemudian menyembunyikan buku itu di balik jaketku, tapi kenapa pula aku harus menyembunyikannya? Toh ini hanya sebuah buku novel biasa. Lalu ku pegang buku itu di belakang badanku. Ah, rasanya tidak nyaman. Kemudian ku dekap ia layaknya buku sekolah. Ah, aneh. Aduh, ku perhatikan orang-orang yang masih di jalan itu melihatku. Mungkin pikir mereka aneh sekali perempuan berjilbab dan berkaos kaki berjalan malam-malam atau tepatnya hampir larut malam sendirian dan membawa sebuah buku yang cukup tebal. Aku pun semakin salah tingkah. Ku pegang buku itu dengan tangan kanan lalu ku pindahkan ke tangan kiri. Kemudian ku pegang dengan kedua tanganku. Secara bergantian, kadang ku dekap ia di depan, kadang ku taruh di belakang.
“Ah, setidaknya gerakan-gerakan acak ini bisa menunjukkan bahwa ini murni buku biasa.”, pikirku konyol.
Posted by Unknown
Posted on




