Doa Mama

    Author: Unknown Book: »

    banner liburan 468x60


    Sakit perut (mules) adalah suatu hal yang biasa. Gejala alamiah yang satu ini justru menjadi pertanda baik jika dirasakan secara rutin. Jadi, bukanlah hal yang memalukan untuk mengakuinya, bila mungkin suatu saat di suatu tempat tak senyaman rumah dan di tengah-tengah kerumunan obrolan anda, anda berkata, “Aduh, perut aku mules ni. Sebentar ya.”. :)

    Aku termasuk orang yang bisa merasakan mules di mana saja dan kapan saja. Di sekolah, kampus, monas, tempat magang, tempat kerja, bahkan di Stasiun Cawang setelah bertahan di dalam kereta.

    Tidak tahu kenapa, aku mudah sekali tersugesti untuk sakit perut dan berakhir pada toilet jika berpergian atau jauh dari rumah. Tapi, tidak kali ini..

    Hari ini, acara rapat akbarnya BP, mengharuskanku ikut ke Jakarta (Al Azhar). Aku tidak suka Jakarta dengan banyak alasan. Salah satunya adalah macetnya itu. Sebenarnya akan lebih dekat bagiku untuk berangkat sendiri dari Depok. Tapi, karena aku buta arah dan buta jalan, yang menjadi alasan utamaku tidak suka Jakarta, aku memilih ikut rombongan bis dari Bogor. Ya, dari pada aku bingung dan nyasar sendirian di salah satu jalanan di Jakarta yang banyak itu, lebih baik aku berangkat lebih awal ke Bogor dulu.

    Sebelum shalat shubuh aku sudah siap dengan jilbab di kepalaku. Pasalnya, aku harus sampai di Bogor jam 6 pagi sedangkan adzan shubuh baru terdengar sekitar jam 5. Jadi, ketika adzan terdengar, aku bisa segera shalat dan berangkat ke Bogor.

    Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan ini. Hanya saja setiap perjalanan dengan kendaraan umum ke Jakarta, aku selalu merasa takut. Aku takut jadi anak hilang kalau pergi sendiri dan kalau berangkat bersama banyak orang begini, aku takut jika di perjalanan nanti perutku sakit.

    Bismillah, aku siap berangkat. Sementara papa bersiap mengeluarkan motor untuk mengantarku sampai Jalan Raya Bogor, aku berpamitan dengan mama. Ku salami tangannya dan ku ucapkan pinta.

    “Ma, aku berangkat.”, pamitku.
    “Ya, hati-hati.”, izinnya.
    “Hmm.. Ma, doain aku ya..”, sejenak aku memotong kalimatku yang tidak biasanya ini.
    “Doain aku biar nggak sakit perut.”, lanjutku yang membuatnya seketika menertawaiku.
    “Aku serius!, doain ya ma.”, tegasku.
    “Iya..”, jawab mama masih sambil tertawa.

    Lebih tenang rasanya sekarang. Papa sudah memanggilku, saatnya aku berangkat.

    Papa mengantarku sampai Simpangan Depok. Dia mengantarku sampai aku mendapatkan bis. Kalau dihitung-hitung, belum ada 5 kali aku naik bis sendiri. Bukannya aku penakut, tapi bis memang masih sesuatu yang menyeramkan bagiku jika aku naik sendiri.

    Sekitar satu jam perjalanan, sampailah aku di pangkalan bis Damri Bogor. Alhamdulillah aku tidak terlambat. Setelah duduk di bis, akupun mendapatkan kue kotak. Alhamdulillah lagi, aku memang tidak sempat sarapan (tidak suka sarapan tepatnya).

    Bis kami pun akhirnya berangkat. Sambil menikmati cuaca Bogor di pagi hari, ku makan pula kue kotakku satu persatu. Perasaanku senang, tapi tiba-tiba..

    “Aduh, kayanya mau mules ni.”, sadarku dalam hati yang membuatku menaruh kembali kue di tanganku.
    Sempat aku menyesali telah memakan kue-kue itu, tapi secara logika, sistem pencernaan tidak mungkin secepat ini. Kue-kue ini pasti masih di lambung, jadi mungkin makanan semalam yang tiba di usus besar.

    “Bagaimana ini?”, panikku seketika.
    Rasanya aku tidak sanggup jika harus menahannya sampai Jakarta terlebih jika pakai macet. Pikiranku langsung saja memunculkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Mungkin aku harus segera turun dari bis. Tapi sepanjang jalan aku hanya melihat pohon-pohon. Lagipula aku harus bersiap-siap malu dengan guru-guru lain yang belum ku kenal jika aku maju ke depan dan meminta pak supir menepi sebentar. Apa nanti yang ada di pikiran mereka. Atau aku pulang saja. Tapi sekarang ada di sebelah mana Depok saja tidak terbayang. Aku tidak tahu jalan.

    Ku lihat jendela, adakah tempat yang menyediakan toilet umum. Ah, tapi ini masih sangat pagi sekali. Jikapun aku melihat mall pasti belum buka juga. Aduh, pikiran buruk ini membuat rasa mulesku semakin memburuk. Ku tundukkan kepalaku dan ku pejamkan mataku. Apa yang harus kulakukan?

    Ku harap ini segera berlalu. Ini pasti akan berlalu. Nanti malam pasti aku sudah di rumah dan ini hanya tinggal cerita. Tapi saat ini aku harus menyelesaikan akhir ceritnya dulu. Aduh, mules..

    “Nggak mules, nggak mules, nggak mules..”, sugestiku dalam diam.
    “Nggak mules, nggak mules, nggak mules..”, sugestiku dalam pejam.
    “Ya Allah, jangan mules ya. Tadi kan aku dah didoain mama. Jadi, pasti nggak akan mules.”, sugesti berikutnya.
    “Ayo jangan mules, tadi kan udah minta doa dari mama..”, sugestiku terus.
    “Nggak akan mules, mama kan dah doain aku..”, sugestiku terus menerus dan… berhasil!
    Mulesku hilang. Perutku sudah tidak merasakannya lagi. Ku pastikan lagi, ku cari-cara rasa mules itu di perutku dan ternyata memang benar-benar sudah hilang.
    “Alhamdulillaaaaahhhh..”, lega ku dalam hati begitu senang. Akhirnya aku bisa kembali menikmati perjalanan hari ini.

    Doa seorang mama memang hebat. Andai saja aku tidak meminta doa itu tadi pagi, apa jadinya aku? Pasti sudah keringat dingin gelisah nggak jelas. Kalau tidak salah, aku pernah dengar, katanya doa ibu itu memang seperti doa Rasullullah untuk umatnya. Sebuah doa yang akan lebih terdengar oleh Allah. Jadi, pelajaran besar untukku hari ini adalah jika kita menginginkan sesuatu, setelah berikhtiar dan berdoa kepada Allah tentunya, mintalah juga ibu kita untuk mendoakan doa yang sama untuk kita. Hal sederhana seperti ceritaku di atas saja sudah membuktikan hebatnya doa seorang ibu. Apalagi untuk hal yang lebih besar, seperti urusan sekolah, kerja atau jodoh. :)

    Leave a Reply

pekasss

dbcn

bigaa

hello world2


CLOSE [x]