Jakartaphobier goes to Jakarta (part 1)

    Author: Unknown Book: »

    banner liburan 468x60


    Aku tinggal di Depok dan sudah cukup sering ke Jakarta. Aku sudah sempat beberapa kali ke Senayan, biasanya saat ada pameran buku atau komputer dan pernah juga saat mengikuti tes masuk STAN dan CPNS Pemda DKI Jakarta. Aku juga sudah beberapa kali ke daerah Bundaran HI – Monas, kalau yang ini dalam rangka aksi mahasiswa atau munasharah Palestine. Selain itu, aku juga sudah menjelajahi berbagai rumah sakit dan puskesmas di Jakarta karena ini bagian dari tugas kuliahku sebagai mahasiswa jurusan manajemen rumah sakit. Bersama papa, aku juga suka ke daerah Kota tepatnya ke Harco Mangga Dua dan Pasar Pagi. Aku dan papa memang suka pergi berdua untuk belanja ala papa, belanja perlengkapan olahraga maksudnya. Sedangkan bersama mama, tempat favorit kami di Jakarta adalah Pasar Tanah Abang. Terlebih kalau dapat suntikan dana dari papa (papaku tuh memang agak pelit. Hehe pis pa I love you forever ^^v). Sementara belakangan ini, setelah lulus kuliah, aku juga masih sempat beberapa kali ke Jakarta. Biasa, musim nikah. :)

    Semua kunjungan ke Jakarta yang ku lakukan itu selalu bersama orang lain. Bahkan bersama-sama dari Depok. Mungkin sebagian orang akan menertawaiku. Tapi aku tidak akan menertawai sebagian orang yang sama belalang atau kecoa saja takut atau yang sampai naik ke atas meja kalau ada kucing atau ikut lompat-lompat kalau dihampiri kodok. Menurutku sah-sah saja mempunyai rasa takut seperti itu. Tidak ada objek yang salah untuk ditakuti oleh jenis ketakutan ini. Jadi, jangan aneh kalau ada juga orang yang sangat takut nyasar/hilang, terlebih nyasar/hilangnya di Jakarta, alias Jakartaphobia (istilahku).

    Sewaktu sangat kecil, aku pernah hilang di pasar. Aku sangat kebingungan mencari orang dewasa yang bersamaku ke pasar itu. Di saat bingung dan sangat ketakutan, segerombolan banyak orang membentuk lingkaran besar mengelilingiku. Mereka semuanya berbicara dan menanyaiku. Aku bingung mendengarnya apalagi untuk menjawabnya. Aku hanya diam ketakutan sejadi-jadinya saat itu hingga orang dewasa yang tadinya bersamaku menemukanku di tengah kerumunan.

    Itu di pasar, bagaimana kalau di Jakarta? Sangat sulit memahami kota yang satu ini. Terlalu banyak jalan dan bis untuk dihafal. Dan anehnya jalan pulang seringkali berbeda dengan jalan saat berangkat. Aku heran bagaimana bisa orang begitu paham seluk beluk jalanan di sini.

    “Mau ke tempat ini ya? Berangkat dari sini aja terus naik ini turun di sini. Habis itu nyebrang jalan sedikit ke sini. Dari sini naik ini turun di sini. Jangan naik yang ini ya, naik ini aja biar bisa turun di sini terus nyambung naik ini lewat sini. Lewat sini aja biar nggak macet. Nanti kalau pulangnya baru naik ini lewat sini. Turun di sini terus tinggal naik ini deh.”, atau
    “Nanti kamu lurus aja. Kalau dah ketemu pertigaan ambil kanan. Terus kalau dah sampai sini ambil kiri. Terus ikutin jalan sampai ketemu ini kamu ambil kanan. Kalau ada perempatan besar kamu lurus terus sampai ketemu ini ada putaran kamu putar arah. Ambil kiri nanti ada lampu merah belok kiri. Terus aja patokannya nanti ini, ini dan ini. Kalau dah ngelihat ini tinggal ambil kanan. Nggak jauh dari situ ada perempatan kecil, ambil kanan lagi terus belok kiri.”
    “Haah??????....”, tidak terbayang di kepalaku setiap rute yang dijelaskan kepadaku. Rasanya membedakan kanan dan kiri saja sudah sulit. Kalau saja aku terbuat dari kertas dan crayon, entah gambar apa yang ada di atas kepalaku, pusing.

    Sampai saat ini sudah 2 kali aku ke Jakarta sendiri –dengan sangat terpaksa-. Perjalanan pertama aku naik bis ke daerah Kedoya untuk tes kerja. Sudah ke Jakarta, naik bis pula. Perjalanan ini benar-benar membuatku takut sampai aku sakit perut sepanjang jalan. Tapi mau bagaimana lagi. Sedangkan perjalanan kedua aku mengendarai motor sendiri ke GOR Jakarta Selatan. Kali ini aku mau mengambil nomor peserta ujian tes masuk CPNS Pemda DKI Jakarta.

    “Om, kalau mau ke sini, lewat mana ya?”, tanyaku kepada adik ipar mama yang rumahnya bertetangga dengan rumahku sambil menunjukkan sebuah tulisan alamat di kertas kecil.
    “Kamu mau naik motor apa naik bis?”, tanyanya.
    “Aku mau naik motor Om.”, jawabku.
    “Oo, jam berapa? Kalau pagi bareng Om aja ntar dianterin.”, tawarnya kepadaku.
    “Jam 9 acaranya.”, sahutku.
    “Ya siang ya? Om berangkatnya pagi.”, responnya.
    “Ya udah nggak apa-apa Om, aku naik motor sendiri aja.”, tegasku meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.
    “Oo, biar gampang kamu lewat sini aja. Tau PGC kan? Kamu lurus nanti kalau ada jalan layang belok kiri. Jangan ambil yang nanjak. Kamu lurus aja nanti ada masjid, pertigaan belok kanan. Kamu tinggal ngikutin petunjuk jalan aja.”, kurang lebih seperti itu ia menjelaskan.

    Bagaimana ya, aku tidak pernah bisa menghafal jalan. Apalagi Jakarta. Aku bingung. Penjelasan panjang lebar dari Omku hanya bisa ku jawab dengan beberapa kali gelengan kepala. Memahami kebingunganku itu, Omku kemudian menggambarkannya pada sebuah kertas.

    “Ni patokannya. Kalau bingung di jalan telepon aja ke nomor Om.”, solusinya untukku.
    “Ya Om, makasih ya.”, jawabku berusaha lega tapi tidak bisa.

    Keesokkan harinya, setelah meminjam Esia adikku, aku pun bersiap untuk berangkat. Jantungku sudah berdebar tidak normal didengarnya. Mau naik bis takut, naik motorpun sebenarnya justru menambah kemungkinan aku tersasar di Jakarta lebih besar. Tidak ada bayangan sama sekali di perjalanan nanti. Aku benar-benar buta. Selama ini, jarak terjauh naik motor sendiri ke arah Jakarta yang pernah ku capai adalah RS Polri Kramat Jati. Selebihnya aku benar-benar tidak ada bayangan, karena biasanya kalau naik motor yang ku perhatikan adalah motor barengan yang ada di depanku, bukan jalanannya.

    “Nanti malam, aku akan sedang ada di rumah. Pagi ini akan hanya berupa cerita yang sudah berlalu.”, sugesti yang ku berikan untuk menenangkan rasa takut ini. Rasa takut yang mungkin sangat aneh bagi orang lain tapi aku serius aku takut. Aku takut sekali. Aku takut nyasar dan hilang di Jakarta..

    Bismillah, aku berangkat. Di kepalaku sudah ada tanda tanya besar akan apa yang akan terjadi denganku hari ini. Cukup tenang sampai aku mencapai RS Polri. Namun setelah itu, saatnya petualanganku dimulai.
    (bersambung..)

    Leave a Reply

pekasss

dbcn

bigaa

hello world2


CLOSE [x]