Ojekers vs Boncengers
Author:
Unknown
Book:
»
cerita kecil
“Bosen naik motor sendiri! Pengennya diboncengin! Bosen ngeliatin jalan (aspal)!”, ucapku ba’da maghrib sambil menenteng helm hendak pulang.
“Hmm.. Seandainya saja ada yang antar jemput, pasti lebih enak.”, tambahku dalam hati melengkapi keluhanku saat itu.
Begitulah kalimat keluhanku kemarin sore. Sudah dua setengah tahun aku jadi ojekers –sebutanku untuk para pengendara motor-. Selama ini aku sangat menikmati “profesi” ini. Pasang earphone di kedua telinga dan aku akan bernyanyi sepanjang jalan. Terlebih lagi kalau sambil kehujanan, rasanya semakin semangat bernyanyinya.
Hari ini, seperti biasa aku pulang ba’da maghrib. Rencananya malam ini juga aku dan Anggi akan membeli kado untuk Mba Herma, mantan staf keuangan yang akan menikah dua hari lagi di Sukabumi. Aku dan Anggi memutuskan untuk mencari kado di ITC Depok. Untuk efektifitas, aku dan Anggi akan ke rumahku dulu untuk menaruh motor. Kami memutuskan untuk menggunakan satu motor saja, kebetulan rumah kami berdekatan dan searah ke Depok.
Sudah jam tujuh malam saat itu, cuacanya sedang gerimis deras dan aku bersiap memakai jas hujan. Aku harus buru-buru, karena jam sembilan toko-tokonya sudah mulai tutup.
Jas hujan siap, helm oke dan motor sudah ku nyalakan. Ku biarkan sebentar agar “panas”. Pintu sudah siap akan di kunci dan suasana ruko di sana sudah gelap. Baiklah, saatnya berangkat!!
Tapi tiba-tiba, O..O.. ups! sepertinya baru saja ada yang putus. Benar saja, ternyata kabel gasku putus. Sepertinya harus dibawa ke bengkel. Tapi malam-malam hujan-hujan dan buru-buru begini sepertinya menenteng motor ke bengkel bukanlah solusi yang terbaik.
“Ndry, taruh sini aja dulu!”, saran Anggi.
Tanpa pikir panjang aku sangat menyetujui saran itu. Seketika aku langsung meminta Mas Tri untuk tidak mengunci pintu dulu. Dan akhirnya, seperti rencana awal, aku dan Anggi pergi dengan menggunakan satu motor, motor Anggi, ke Depok.
Akupun duduk miring dibonceng Anggi. Ternyata tas ranselku sangat berat. Biasanya kalau naik motor sendiri, bagian bawah tasku menyentuh jok motor sehingga tidak terasa beratnya. Separuh perjalanan aku menahan berat di pundakku dan kakiku mulai mati rasa kesemutan.
“Nggi, nanti kalau ada Indomart kita berhenti dulu ya.”, pintaku.
“Kenapa Ndry?”, tanya Anggi.
“Aku mau ganti posisi duduk, di sana kan parkirnya luas.”, jawabku sambil berharap segera melihat Indomart.
“Oh.. iya.”, Anggi mengiyakan.
Memang tidak lama kemudian, dengan sangat senang aku melewati sebuah Indomart –sebenarnya aku lupa indomart atau alfamart-. Aku segera turun dan terdiam berdiri karena kakiku yang kesemutan tidak bisa digerakkan.
Tidak terlalu lama, kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini aku merubah posisi dudukku menjadi mengangkang. Semoga separuh perjalanan ini lebih nyaman. Aku ingin sekali menikmati perjalanan saat malam tanpa harus melihat aspal. Tapi, baru sekitar 2 – 3 menit, aku merasakan ketidaknyamanan yang menyebalkan lagi.
Bagian bawah tasku ternyata melebihi jok. Akibatnya, selain rasa berat di pundak, posisi badanku juga tertarik ke arah belakang. Selain itu, prinsip “malas” pada ilmu fisika membuat badanku serasa terdorong ke belakang selama motor melaju dengan tarikan gas, yang artinya itu selama perjalanan. Dengan kata lain, sepanjang perjalanan aku mengandalkan otot perutku untuk menahan berat badanku agar tidak jatuh ke belakang. Pegal sekali.
Sekitar 30 menit, waktu yang sangat lama untuk olahraga otot perut, kami sampai di ITC Depok. Tidak terlalu lama kami pun berhasil mendapatkan bed cover sesuai budget dan tiga gulung bungkus kado.
Saatnya pulang saatnya berjuang lagi. Kali ini kondisinya agak lebih sulit. Selain tas yang berat, sekarang aku harus memangku bed cover yang besar itu dan memegang kantong plastik yang berisi tiga gulungan bungkus kado dengan tangan kananku. Kali ini perutku benar-benar di uji kekuatannya. Dengan tinggal satu tangan untuk berpegangan, ku harap perutku akan lebih kuat selama perjalanan pulang nanti.
Anggi pun mengantarku pulang sampai rumah. Mengingat motor yang ku tinggal di BP, Anggi pun menawarkan jasa untuk menjemputku jam setengah delapan besok pagi. Baiklah, lagipula aku memang harus datang pagi. Kunci motorku ku bawa, kalau aku datang siang pasti motorku akan merepotkan banyak orang di sana.
Keesokan harinya Anggi datang menjemput. Aku pun sudah siap dengan kado yang sudah ku bungkus rapi. Tidak terlalu berbeda dengan semalam, aku pun berboncengan dengan Anggi dengan tas yang tetap berat dan bed cover di pangkuan.
“Ini semua pasti akan berlalu.”, sugestiku menahan perut sepanjang jalan.
Dan Alhamdulillah, sekarang ini benar-benar telah berlalu. Sesampainya di sana aku langsung membawa motorku ke bengkel terdekat dan pulang pada sore hari dengan menjadi ojekers lagi. Alhamdulillah.
Allah telah mengamini keluhanku hanya dalam 25 jam. Sama seperti yang aku inginkan, aku pulang diantar dan berangkat dijemput. Aku pikir akan menyenangkan jadi boncengers, tapi ternyata tidak lebih baik. Menjadi ojekers adalah kenikmatan tersendiri yang tidak dirasakan boncengers. Ini berarti sebuah pelajaran besar untukku. Pelajaran bahwa aku tidak boleh mudah mengeluh, karena bagaimanapun kondisinya, lebih banyak nikmat yang harus aku syukuri daripada aku keluhkan. Lagi pula, hanya Allah saja yang tahu apa-apa yang baik untukku. Pengandai-andaianku yang ku rasa akan lebih baik jika terjadi, maka sesungguhnya Allah sungguh yang lebih tahu.
Posted by Unknown
Posted on





Subhanaallah....
perjuangan yang luar biasa....
ternyata panjang sekali ya perjalanan bed cover Mbak Herma....
hehe aku turut mengucapkan terima kasih karena Mbak telah bersusah payah memilih kado untuk teman kita tercinta :D
afwan :)