Mataku terasa berat sekali. Aku benar-benar sudah teramat mengantuk. Pukul 21.30, pantas saja. Niat hendak menonton TV pun tidak mampu ku wujudkan. Insting dasar ini memaksaku merebahkan semangat di atas buaian kasur dan guling kesayanganku.
Kepalaku mendadak penat. Sebuah atau mungkin sepohon pemikiran yang dipenuhi ulat bulu tumbuh di pikiranku. Rasanya begitu sesak hingga tenggorokanku sakit. Bahkan untuk bernapas pun aku tidak bisa. Sesuatu yang besar telah menutup jalan oksigenku di sekitar
faring. Aku pusing.
Rasa kantukku hilang sudah kini. Sisi melankolis yang telah terdramatisir oleh pekat malam menjelang gerhana bulan terlama menurut koran yang ku baca pagi ini berhasil membangunkan gairah menulisku.
Mungkin ini efek psikologis sebuah gerhana. Pertunjukkan cahayanya seperti medan magnet yang menarik kutub-kutub waktu. Pusaran ingatanku yang bermuatan positif tertarik pada suatu perspektif masa yang disebut dulu. Ah, dulu, dulu di waktu itu.
Namun, Kutub magnet bumi yang membentuk sabuk van alley sepertinya cukup ampuh menahan fenomena alam imajinasiku ini. Untunglah, aku tidak menembus waktu terlalu dulu pada arsip ingatanku. Ah, kisah-kisah tua yang sarat khilaf.
Ku bisikkan lara pada malam yang hilang direbut pekat.
Gelap bulan ini bagai mendung kering.
Kemerahannya adalah radang langit yang terluka.
Begitu sempurna pada dua lubang hujan yang telah menggenang linang.
Dulu adalah kalian, tapi hilang..
Gelap bulan ini bagai mendung kering.
Kemerahannya adalah radang langit yang terluka.
Begitu sempurna pada dua lubang hujan yang telah menggenang linang.
Dulu adalah kalian, tapi hilang..





Smoga hilang itu bukan brarti Musnah,,
Tapi tersimpan di sini, di hati, di memori,,
Temukanlah.... temukanlah....
saudariku.. luv u ^^
gelap prasangka ini seperti kamar saat lampu tiba-tiba padam..
Yang membuatku beranjak mencari meraba-raba cahaya..
dan saat ia tak bisa ku temukan, maka gelap itu seperti lubang hitam yang menghisap oksigen di sekitar..
hehe.. semoga pagi datang dengan terang.. :)
klo bgtu bangkitkan kembali terangmu itu,
dengan cahaya yg kaubuat dengan kecintaan, keikhlasan, dan harapan...
karena cahaya itu, aku merindunya....
kembalilah wahai cahayaku..^^
nanti..
sekarang aku sedang menunggu cukup alasan untuk aku kembali.. :)